Oh ya tentu saja aku masih ingat percakapan kita di bandara saat itu di hari itu. Hari ketika kamu mengejar mimpi-mimpi kamu ke Belanda.
"Belanda itu enak katanya, sayang.. Kita bisa bersepeda dimana-mana di sana. Kamu suka bersepeda kan?" Tanyamu dengan mata cantik yang berbinar.
Aku tersenyum, sambil menyetir pandanganku lurus. Ah, seperti kamu tidak tahu saja, mana bisa aku melawan binar matamu. Mana bisa aku menahan keinginanmu jika itu bisa membuatmu bahagia.
"Jadi kamu berangkat?" Aku memastikan hal yang tidak perlu dipastikan.
Bandara selalu dipenuhi oleh orang yang beragam. Mereka yang sedih ditinggal, mereka yang sukacita bertemu, mereka yang sendirian, mereka yang merindukan. Bandara adalah titik temu kehidupan, seperti titik dimana kita dipenuhi perpotongan antara lingkaran kehidupan antara satu dan lainnya. Seperti titik pertemuan kau dan aku. Seperti titik perpisahan kau dan aku.
Aku masih ingat air mata hangat yang menjaluri pipimu dan merebahkannya di atas bahuku. Aku masih ingat ketakutanmu akan hubungan kita yang mestinya tidak perlu kamu takutkan. Aku selalu ada, diam, tidak kemana-mana untuk kamu. Melihatmu tumbuh, terbang, menari bersama impianmu. Jadi, kamu tidak perlu takut. Yang kamu takutkan harusnya adalah dirimu sendiri.
...
Aku tidak heran, sungguh. Dan aku tidak marah, sungguh. Meski kamu ada janji tentang jarak yang tidak akan membuat kamu luluh.
Tapi aku tahu, dari dulu. Seperti tanyaku padamu di hari itu:
Jika nanti akhirnya kamu bertemu salju,
Akankah kamu masih merindukan hujan?
Jika nanti akhirnya kamu bertemu salju,
ReplyDeleteAkankah kamu masih merindukan hujan?
CINTA DEH KITA!
*oPHY & Tiara
Ahahaha.. kalian inii :">
ReplyDeletethanks loh..
saya tidak merindukan hujan
ReplyDeletesaya merindukan kamu..
:">
ReplyDeletebr bc blog adin yg ini.
ReplyDeletecerita yg ini cicklit bgt, ga adin bgt.
kecuali quote terakhir..
ahaha, actually, I have many pieces, ti. It builds me. ;)
ReplyDeletecerita bagus banget! =)
ReplyDelete